Postingan

aku, malam, dan dia

Malamku akan sunyi. Aku rasa ia memilih untuk tak peduli dan tak kembali. Aku tidak merasa bahwa semuanya adalah kesalahanku. Tanpa mengetahui bagaimana perasaannya, sepertinya aku terlalu banyak ingin dimengerti. Bagaimana tidak, ia mengulanginya lagi. Mengambil waktu libur untuk kebebasannya tanpa bersamaku. Mungkin kelihatannya simpel, tapi aku tak mengerti mengapa ia melakukannya. Aku rasa, aku tak semembosankan itu, sampai2 tak mau menghabiskan waktu liburnya bersamaku. Oke, katanya ia sakit dan butuh istirahat. Apakah jika bersamaku, aku selalu mengganggunya? Apakah bersamaku, tak mampu membuatnya nyaman?? Terdiam, tak sejenak. Bersemayam dengan perasaan masing2. Tak saling bicara dan hanya ingin dibiarkan begitu saja. Agh, sudahlah!! Lama-kelamaan juga ia akan terbiasa memejamkan mata dalam kesendirian, tanpaku. Ini baru berjalan 2 bulan, tapi sudah terasa lama. Bagaimana caranya bertahan hingga akhir, tanpa menghitungnya?? 

Problem (one)

Malam yang sepi dan sunyi, ditemani dua kawan yang sama-sama terdiam dengan tugasnya masing-masing. Bagaimana denganku? Aku hanya pura-pura diam dan sudah belajar fokus kerja sedari pagi. Kini, aku benar-benar merasakan dan membuktikan perkataannya. Apa ia masih ingat dengan hal yang pernah ia katakan sebelumnya? Apa karena ia pelupa, lalu hal itu juga masuk dalam daftar yang dilupakan? Kalimat itu selalu terngiang-ngiang dalam benakku sebagai bekalku mempersiapkan hati dan mental ketika hal itu ternyata benar-benar terjadi. “ Bila kata menikah tidak hanya berada di dalam hati dan telah diucapkan dengan lisan, tentu akan banyak sekali cobaan yang akan menghampiri pasangan itu untuk menguji mereka hingga mereka akan bimbang untuk melanjutkan hubungannya atau mengambil langkah mundur.” Ya, kurang lebih kalimat itulah yang pernah diucapkannya dan bahkan aku mendengarnya sekali melalui adegan sinetron di salah satu channel kala itu. Mungkin saat inilah cobaan datang pada hubun...

How Are You Today?

Apa kabarmu hari ini? Beberapa hari yang lalu, banyak waktu yang telah kita lalui bersama. Bagaimana perasaanmu? Berbeda dengan tahun sebelumnya yang aku sampai merasakan bosan ketika liburan panjang di rumah. Tahun ini liburan lebaranku justru terasa sangat singkat. Ya, tentu saja karena aku memiliki alasan untuk berlama-lama tinggal di rumah. Banyak hal yang bisa kulakukan dan memang harus dilakukan. Banyak hal yang harus dipikirkan pula. Agh, ternyata seperti ini rasanya menyiapkan sebuah pesta pernikahan. Makasih udah mau sabar ngehadepin aku yang masih banyak memiliki ketidakmampuan. Makasih udah mau sabar ngehadepin kebingungan aku. Makasih udah mau direpotkan untuk banyak hal. Hehe J Sejauh ini, rasanya aku sangat beruntung karena dapat mengenalmu dan mulai melakukan banyak hal bersamamu. Pertemuan kita bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah takdir yang sedang mulai menuliskan kisahnya.

Sometimes

Sometimes, I think it could be my choice this time is wrong. Terkadang, aku takut dengan pilihan yang aku putuskan saat ini. Aku takut bahwa pilihanku mungkin saja salah dan akan membuatku menyesal di kemudian hari. Sedikit tak percaya bahwa semua seakan berjalan baik-baik saja. Hanya butuh waktu singkat untuk menyelesaikan semuanya. Mungkin ini adalah sebuah jawaban setelah sekian lama aku dan dia mengalami berbagai hal yang sulit. Benarkah demikian? Ya, tapi itu hanya kadang-kadang. Selebihnya, aku selalu berusaha untuk meyakinkan hatiku bahwa pilihanku saat ini pastilah yang terbaik. Jodoh terbaik yang benar-benar telah Allah kirimkan untukku setelah sekian lama aku berdoa dan berusaha. Have you ever been afraid? Bukankah rasa takut adalah hal yang wajar? Bagaimana menurutmu? Lebih dari rasa takut akan keputusanku yang mungkin saja salah, aku lebih takut bahwa bisa saja aku tak bisa mengenalmu dengan baik dan memahamimu dengan begitu tulus. Sudah hal yang tak da...

Kamu!

Aku menemukannya. Seorang lelaki sederhana yang berkomitmen untuk menjagaku di sisa hidupnya. Entah karena baru permulaan, atau memang karena aku mulai jatuh cinta kepadanya. Aku mulai merasa mengaguminya, menyanjung semangatnya, dan selalu bahagia melihat senyumnya. Aku selalu ingin menatapnya lebih lama seakan hari esok tak mampu melihatnya lagi. Sayang, waktu memaksaku untuk melepaskannya sejenak demi memenuhi keegoisanku. Tidak, sebenarnya ini pun tidak menceritakan tentang keegoisan. Hanya saja aku masih memiliki tanggung jawab di tempat lain. Ya, aku masih terjebak di sini. Di tengah-tengah orang lain yang juga peduli terhadapku. Berada di sekitar orang lain yang juga kuyakini menyayangiku, tapi tak kutambatkan hatiku pada mereka. Suatu hari nanti, bila waktunya hampir tiba, aku tak bisa berpikir lebih lama lagi. Aku harus melangkah, bila perlu aku akan berlari menjumpainya. Menjumpai dirinya yang telah kuputuskan untuk kutitipkan hati ini, bahkan raga ini. Aku m...

Rundown

Pernah gak sih berpikir bahwa perjalanan kisah kita seperti sebuah rundown acara? Terlihat terstruktur dan semua berjalan sesuai waktunya. 14 Februari : pertama kali sms 26 Maret (pagi hari) : pertama kali ketemu @Balai_Kota 26 Maret (malam hari) : pertama kali Mas dateng ke rumah. 22 April : Mas dateng ke rumah bareng keluarga untuk menunjukkan keseriusannya. 1 Mei : Mas nengokin aku di Jakarta, terus kita ke Ragunan.. 😍 11 Mei : pertama kali aku main ke rumah mas. 12 Mei : mas dateng ke rumah untuk negabahas masalah khitbah. 14 Mei : kita beli cincin bareng. 20 Mei : acara Khitbah 💍💏 Cukup singkat sih.. Tapi harapan aku kisah kita gak bakalan sesingkat masa ituu.. Justru karena banyak hal yang belum kita lakukan bersama, itu menjadi alasan agar kisah kita tidak pernah berakhir hingga ajallah yang berhak memisahkannya. Oke!d 👍👍

Introducing

Selamat malam angin yang berhembus dari sela-sela jendela kamarku.. Perkenankan aku untuk mengenalkannya kepadamu. Mengenalkan seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupku, selalu dan selamanya. Dirinya pertama kali mengabariku lewat sms singkat. Pada awalnya, ia hanya mengucap salam dan meyakinkan diri bahwa ia tak salah mengirim sms. Aku bahkan masih ingat kapan sms itu dikirimkan kepadaku. 14 Februari 2017, bukan secara sengaja aku mengingat tanggalnya. Hanya saja, hari itu bertepatan dengan hari valentine yang digadang-gadangkan sebagai hari kasih sayang. Aku memang tak turut merayakan hari itu, hanya kebetulan saja jika sms pertama hadir pada hari yang bersamaan dengannya. Pada awalnya, sama sekali tak ada harapan terpaku dalam kalbu. Ia aku anggap sama sepertimu, hanya angin lalu. Kau tentu tahu alasannya, bukan? Ini bukan pertama kalinya bagiku dikenalkan dengan seorang lelaki atau bahkan bukan pertama kalinya bagiku untuk mengenal seorang lelaki. Mungkin sa...