Problem (one)

Malam yang sepi dan sunyi, ditemani dua kawan yang sama-sama terdiam dengan tugasnya masing-masing. Bagaimana denganku? Aku hanya pura-pura diam dan sudah belajar fokus kerja sedari pagi.

Kini, aku benar-benar merasakan dan membuktikan perkataannya. Apa ia masih ingat dengan hal yang pernah ia katakan sebelumnya? Apa karena ia pelupa, lalu hal itu juga masuk dalam daftar yang dilupakan?

Kalimat itu selalu terngiang-ngiang dalam benakku sebagai bekalku mempersiapkan hati dan mental ketika hal itu ternyata benar-benar terjadi. “Bila kata menikah tidak hanya berada di dalam hati dan telah diucapkan dengan lisan, tentu akan banyak sekali cobaan yang akan menghampiri pasangan itu untuk menguji mereka hingga mereka akan bimbang untuk melanjutkan hubungannya atau mengambil langkah mundur.” Ya, kurang lebih kalimat itulah yang pernah diucapkannya dan bahkan aku mendengarnya sekali melalui adegan sinetron di salah satu channel kala itu.

Mungkin saat inilah cobaan datang pada hubungan kami. Meskipun aku merasa kali ini bukanlah yang pertama bahwa ia kecewa terhadapku, tetapi mungkin saat inilah semua berada di puncaknya sehingga ia tak mampu membendungnya kembali.

Jika aku diperkenankan untuk berkata, mungkin aku bisa membaca situasi yang terjadi saat ini. Namun, aku tetap berusaha menutupi prasangka itu dan berharap ada penjelasan lain yang lebih baik yang dapat aku dengar.

Berapa kali pun aku bertanya, ia tak akan menjawab. Ia berpendapat bahwa aku tak perlu tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ya oke, sungguh keberadaanku masih sangat jauh untuk menggapai posisi itu. Posisi di mana aku bisa mendengar seluruh keluh kesahnya.

Ketika ia benar-benar mengatakannya, tentu aku berbohong jika aku tidak sakit hati. Siapa aku sejauh ini? Siapa aku di matanya hingga aku tak pantas mengetahui pemikirannya?

Mungkin terlihat seperti sebuah drama jika aku mengatakan bahwa aku tak bisa membendung air mata. Tapi, memang itulah yang terjadi. Pada hari sebelumnya, aku masih bisa berpikir bahwa ia sibuk, seperti hari sebelumnya bahwa ia tak sempat mengirimkan kabarnya kepadaku. Sayangnya, semua terjawab hari ini. Seperti ketakutanku, ia marah dan penuh kekecewaan terhadapku.

Mengetahui hal itu, aku tidak bisa serta merta turut emosi. Emosiku tak akan membaikkan keadaan. Ya, aku hanya bisa terdiam dan mencoba untuk tetap tegar di hadapan rekan kerjaku. Aku mencoba agar tak terlihat bermasalah. Hhmm, pura-pura bahagia itu tentu menguras banyak energi. Huft

Aku masih yakin bahwa ini salah satu ujian yang dimaksudkan dalam untaian kalimat itu. Oleh karenanya aku tidak memainkan emosiku pula karena aku tidak ingin keadaannya semakin genting. Aku akan selalu berharap bahwa semua akan kembali baik-baik saja. Jangan sampai hal ini mengakhiri hubungan yang benar-benar aku harapkan.

Saat ini aku menyadari bahwa ia mungkin butuh waktu. Baiklah, akan kuberikan waktu sebanyak yang ia inginkan. Aku tak akan mengganggunya sementara waktu sampai hatinya kembali tenang. Dan maaf, aku harus memutuskan jalur komunikasiku karena aku tak kuasa menunggu waktu itu tiba. Waktu di mana ia akan kembali dan berbicara tentang banyak hal kepadaku. Waktu di mana semua hal telah kembali ke tempatnya semula.

Aku berharap ia akan selalu sehat. Aku berharap bahwa waktu itu tak akan lama. Aku berharap sesekali ia akan merindukanku. Aku berharap ia masih memilikiku di hati terdalamnya. Aku berharap rasa yang pernah ia miliki tak serta merta pergi begitu saja. Aku memiliki banyak harapan dan tak ada satu pun harapan buruk akan terucap.


LLL

Komentar

Postingan populer dari blog ini

How Are You Today?

Sometimes