aku, malam, dan dia
Malamku akan sunyi. Aku rasa ia memilih untuk tak peduli dan tak kembali. Aku tidak merasa bahwa semuanya adalah kesalahanku.
Tanpa mengetahui bagaimana perasaannya, sepertinya aku terlalu banyak ingin dimengerti. Bagaimana tidak, ia mengulanginya lagi. Mengambil waktu libur untuk kebebasannya tanpa bersamaku.
Mungkin kelihatannya simpel, tapi aku tak mengerti mengapa ia melakukannya. Aku rasa, aku tak semembosankan itu, sampai2 tak mau menghabiskan waktu liburnya bersamaku.
Oke, katanya ia sakit dan butuh istirahat. Apakah jika bersamaku, aku selalu mengganggunya? Apakah bersamaku, tak mampu membuatnya nyaman??
Terdiam, tak sejenak. Bersemayam dengan perasaan masing2. Tak saling bicara dan hanya ingin dibiarkan begitu saja.
Agh, sudahlah!! Lama-kelamaan juga ia akan terbiasa memejamkan mata dalam kesendirian, tanpaku.
Ini baru berjalan 2 bulan, tapi sudah terasa lama. Bagaimana caranya bertahan hingga akhir, tanpa menghitungnya??
Komentar
Posting Komentar