Introducing
Selamat malam angin yang berhembus dari sela-sela jendela kamarku..
Perkenankan aku untuk mengenalkannya kepadamu.
Mengenalkan seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupku, selalu dan selamanya.
Dirinya pertama kali mengabariku lewat sms singkat. Pada awalnya, ia hanya mengucap salam dan meyakinkan diri bahwa ia tak salah mengirim sms.
Aku bahkan masih ingat kapan sms itu dikirimkan kepadaku.
14 Februari 2017, bukan secara sengaja aku mengingat tanggalnya.
Hanya saja, hari itu bertepatan dengan hari valentine yang digadang-gadangkan sebagai hari kasih sayang. Aku memang tak turut merayakan hari itu, hanya kebetulan saja jika sms pertama hadir pada hari yang bersamaan dengannya.
Pada awalnya, sama sekali tak ada harapan terpaku dalam kalbu. Ia aku anggap sama sepertimu, hanya angin lalu.
Kau tentu tahu alasannya, bukan? Ini bukan pertama kalinya bagiku dikenalkan dengan seorang lelaki atau bahkan bukan pertama kalinya bagiku untuk mengenal seorang lelaki.
Mungkin saat itu, aku masih berpikir bahwa ada kemungkinan hubungan kami akan segera berakhir. Bisa saja ia seperti lelaki yang sebelum-sebelumnya. Hanya mengumbar kata cinta, namun tak terbuktikan dalam tindakan nyata.
Tapi, angin..
Tahukah kau apa yang membuatnya berbeda dari yang lainnya?
Tahukah kau apa yang membuatku kagum padanya?
Tahukah kau apa yang membuat kita bisa seperti sekarang ini?
Ia adalah seseorang yang membuat harapan bagiku. Baginya, tak perlu lama untuk mengenalku. Sejak awal berkenalan, ia tak ada niat untuk pergi begitu saja.
Meskipun sebenarnya aku sangat takut dengan perjumpaan awal kita, namun ia justru menguatkanku. Saat itu aku berpikir akan gagal, tapi tiba-tiba itu terbantahkan karena ia langsung datang ke rumahku. Ya, malam itu juga meskipun tanpa kehadiranku di hadapannya.
Sejak saat itu, aku mulai yakin bahwa hubungan ini memperlihatkan titik terangnya, dan bukan ujung lorong yang buntu dan gelap.
Tahukah kau, angin?
Ia adalah lelaki pertama yang bukan temanku, namun datang ke hadapan kedua orang tuaku untuk membicarakan tentang diriku.
Lalu, bagaimana aku tak tersentuh dibuatnya?
Perkenankan aku untuk mengenalkannya kepadamu.
Mengenalkan seseorang yang kelak akan menjadi pendamping hidupku, selalu dan selamanya.
Dirinya pertama kali mengabariku lewat sms singkat. Pada awalnya, ia hanya mengucap salam dan meyakinkan diri bahwa ia tak salah mengirim sms.
Aku bahkan masih ingat kapan sms itu dikirimkan kepadaku.
14 Februari 2017, bukan secara sengaja aku mengingat tanggalnya.
Hanya saja, hari itu bertepatan dengan hari valentine yang digadang-gadangkan sebagai hari kasih sayang. Aku memang tak turut merayakan hari itu, hanya kebetulan saja jika sms pertama hadir pada hari yang bersamaan dengannya.
Pada awalnya, sama sekali tak ada harapan terpaku dalam kalbu. Ia aku anggap sama sepertimu, hanya angin lalu.
Kau tentu tahu alasannya, bukan? Ini bukan pertama kalinya bagiku dikenalkan dengan seorang lelaki atau bahkan bukan pertama kalinya bagiku untuk mengenal seorang lelaki.
Mungkin saat itu, aku masih berpikir bahwa ada kemungkinan hubungan kami akan segera berakhir. Bisa saja ia seperti lelaki yang sebelum-sebelumnya. Hanya mengumbar kata cinta, namun tak terbuktikan dalam tindakan nyata.
Tapi, angin..
Tahukah kau apa yang membuatnya berbeda dari yang lainnya?
Tahukah kau apa yang membuatku kagum padanya?
Tahukah kau apa yang membuat kita bisa seperti sekarang ini?
Ia adalah seseorang yang membuat harapan bagiku. Baginya, tak perlu lama untuk mengenalku. Sejak awal berkenalan, ia tak ada niat untuk pergi begitu saja.
Meskipun sebenarnya aku sangat takut dengan perjumpaan awal kita, namun ia justru menguatkanku. Saat itu aku berpikir akan gagal, tapi tiba-tiba itu terbantahkan karena ia langsung datang ke rumahku. Ya, malam itu juga meskipun tanpa kehadiranku di hadapannya.
Sejak saat itu, aku mulai yakin bahwa hubungan ini memperlihatkan titik terangnya, dan bukan ujung lorong yang buntu dan gelap.
Tahukah kau, angin?
Ia adalah lelaki pertama yang bukan temanku, namun datang ke hadapan kedua orang tuaku untuk membicarakan tentang diriku.
Lalu, bagaimana aku tak tersentuh dibuatnya?
Komentar
Posting Komentar